Posted by: ahdika | December 10, 2009

Perutku Masih ‘Lapar’

(terinspirasi dari note seorang sahabat)

Siang ini tak seterang biasanya,cuaca agak lembab.Tapi keadaan ini tak menyurutkan semangatku untuk tetap bekerja,mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.Kata orang ini adalah prinsip ekonomi,bahwa pengorbanan sekecil-kecilnya untuk hasil sebesar-besarnya.Ah,sudah lah..peduli apa dengan teori itu,yang penting aku harus mengisi perutku.Sedikit informasi,aku ini termasuk golongan sukses,karena usaha ‘kerasku’,aku bisa seberhasil sekarang.Dan kau perlu tahu,kerjaku sekarang tinggal duduk,menunggu order,dan mengolahnya sedemikian rupa sehingga akan memberikan hasil yang ‘rapi’.Aku yakin,orang-orang di bumi ini pasti mengetahui ‘order-order’ hasil olahanku.Ada dari mereka yang berdecak kagum dan bangga dengan hasil kerjaku,tapi ada pula yang iri karena mereka anggap pekerjaanku tidak bersih.Masa bodoh tentang bersih atau tidaknya,yang jelas perutku ini masih ‘lapar’ dan harus diisi.

Aku hanya menerima pekerjaan dari mereka yang berduit saja.Apa pula keuntungan yang aku dapat kalau aku bekerja untuk orang kere,yang untuk makan sendiri saja mereka tak mampu,bukankah begitu?
Sebenarnya perutku sudah ‘buncit’,kenyang akan hasil jerih payahku selama ini.Tapi aku masih ingin membuncitkannya,kan nantinya akan membuatku meraih kebahagiaan duniawi.Persetan dengan urusan akhirat nanti,hadapi yang ada sekarang saja.Kan yang menjamin hidup sekarang ini uang,bukan agama sebagai pegangan (itu menurutku).

Oya,mungkin kau masih penasaran dengan hasil-hasil kerjaku.Baiklah aku beri sedikit contoh dan kau akan tahu disebut apa aku ini.
Contohnya kau bisa lihat dari kasus Rekayasa Kriminalisasi KPK dan pemenjaraan Mak Minah di Banyumas karena mencuri 3 biji kakao.Benar kan kataku tadi,aku hanya bekerja untuk orang-orang yang punya duit saja.

Nah,dan sekarang kau pasti tahu kan disebut sebagai apa aku ini?
Eits,jangan salah,aku bangga dengan diriku karena aku masih bisa memberi makan perutku yang masih ‘lapar’ ini dengan pekerjaan tersebut.Eh ya,mungkin lebih tepatnya ini bukan suatu pekerjaan,tapi aku yang dijadikan dasar dalam bangsa ini.Tapi ya aku sudah tak peduli lagi dengan benar salah,toh aku masih mereka pegang kan?

Posted by: ahdika | December 10, 2009

Bahwa Hidup

Kau boleh memanggilku dengan sebutan apa saja sesukamu, karena banyak orang menyebutku dengan sebutan yang berbeda-beda. Ah, apalah arti sebuah nama. Aku dilahirkan jauh sebelum kau lahir di dunia ini, dan garisku sudah tertuang dalam buku suci milik Tuhan, di mana di dalamnya tertulis juga bahwa aku ditugaskan untuk menjadi bagianmu. Aku berkewajiban untuk membagi apa yang aku punya kepadamu. Dan apakah kau mau menerimanya atau tidak, itu menjadi urusanmu. Aku hanya menjalankan perintah Pemilikku. Kau tentu ingat bagaimana proses kehidupanmu, mulai dari kau dilahirkan hingga saat ini. Mungkin kau masih bingung memaknai keberadaanku, tapi kau harus tahu bahwa kau tak akan ada jika tak bersamaku.

Coba kau ingat kembali, apa kau sudah menerima pemberianku dengan baik, apa kau sudah memanfaatkan keberadaanku dengan tindakan yang nyata-nyata berguna?

Renungkan itu kawan..
Aku sudah memberi banyak sekali hal padamu, memberi banyak sekali pelajaran berharga untukmu. Sekarang coba kau perhatikan orang-orang di sekitarmu. Dua hari lalu kau baru saja menyaksikan betapa mirisnya kehidupan di balik indahnya kehidupanmu dan teman-temanmu. Dua hari lalu kau sempat berkoar bahwa kita mestinya bersyukur atas nikmat Tuhan, kita mestinya bertindak atas apa yang baru kita saksikan, dan omongan-omonganmu yang lain tentang apa yang kau sebut sebagai KEPEDULIAN. Tapi sekarang, apa kau masih ingat dengan omonganmu dua hari yang lalu itu?
Jangan sembunyi sobat, sekali lagi aku tegaskan, aku adalah bagian dari dirimu, jadi aku tahu betul apa saja yang telah kau lakukan selama ini. Ah, atau dua hari itu hanya waktu yang kau ‘luangkan’ untuk sekedar menyaksikan dan berbicara tentang mereka yang tak seberuntung dirimu? atau kau hanya melakukannya ketika keadaan memang menuntutmu untuk melakukannya?

Sayang sekali, selama ini tak kau manfaatkan aku. Aku ada di sampingmu untuk mengingatkanmu, bahkan banyak orang bilang bahwa aku adalah salah satu gurumu yang terbaik. Tapi masih saja tak kau hargai keberadaanku. Jangan hanya bicara sobat, tapi bertindak. Sekarang bukan lagi saatnya untuk berteori bahwa kita harus peduli, kita mesti berbagi, seharusnya kita bersyukur, dan teori-teori lain tentang yang ada dalam diriku. Tapi sekarang waktunya BERTINDAK, praktekkan apa yang kau sebut sebagai peduli, berbagi, dan bersyukur itu. Karena tentang aku, kini tak lagi hanya tentang bagaimana mempertahankan diri di tengah kerasnya kehidupan, tapi juga tentang bagaimana bisa berguna untuk orang-orang di sekitarmu.

Karena akulah yang kau sebut sebagai HIDUP, akulah yang memberimu banyak hal yang mestinya kau terima dengan baik. Karena akulah yang mengajarimu bagaimana berbenah terhadap kekurangan waktu lalu dan menjadikannya lebih baik di kemudian hari. Dan masihkah akan kau sia-siakan keberadaanku?
Renungkan itu kawan..

Posted by: ahdika | October 23, 2009

Surat Untuk Rinduku

Rinduku..
Malam ini aku kembali terbangun,dan seperti malam yang sudah2,aku akan teringat padamu..
yang bertahun sudah meninggalkanku,menyisakan seberkas cinta yang mengalir lembut di urat darahku..

Rinduku..
banyak kisah yang ku lalui tanpa adamu di sampingku,sebagai pelindung dan penguatku..tahukah engkau?hidupku begitu sepi semenjak kepergianmu,ah..bukan hidupku,tapi takdirku..
perpisahan denganmu waktu itu,tak membuat mataku merah berpeluh basah,tak membuat hatiku tersayat,karena jiwaku tak ada kala itu,belum ada lebih tepatnya..
apa yang seperti itu berarti aku membatu?tidak kan?tapi ada hal yang tertinggal di sini,cinta dan rinduku padamu.. Read More…

Posted by: ahdika | October 23, 2009

Saksi Tanah Ini

Pagi ini,seperti biasa aku telah terbangun dari istirahatku yang tak pernah sekalipun tidur.Temanku,sang surya,keluar dari singgasananya membangunkan alam dan manusia-manusia yang masih menguap panjang menyayangkan betapa cepatnya sang waktu berlalu.Aku hanya memandang lesu pada setiap kegiatan yang mereka jalani.Tak ada perubahan.Masih dengan tingkat kepercayaan yang begitu tinggi,dan mereka pun berjalan mantap menuju tempat pergulatannya,tentu meski dengan uapan yang masih panjang.Aku lebih tertarik pada apa yang sedang terjadi di seberang sana.Seorang bocah berumur sekitar 8 tahun,dengan pakaian kebesarannya,berjalan riang menyeberangi jalan raya yang masih lengang.Aku tak sepenuhnya paham,apa yang bocah itu pikirkan,tapi aku yakin,ada terselip sebuah kesedihan yang teramat jauh di lubuk hatinya.Terus aku amati tiap detail gerakannya.Pikirannya cerdas,namun hatinya terbatas.Aku tau,keinginannya untuk satu hal ini cukup besar.Ku lirik orang-orang di seberang tadi,asap rokok berkeliaran di sana-sini,padahal hari masih cukup pagi,dan aroma tawa menghiasi bangunan-bangunan nan anggun yang dalam penglihatanku hanya seperti sepotong kardus rombeng yang ditutupi oleh kewibawaan,ah ya.. Read More…

Posted by: ahdika | October 15, 2009

Atau Memang?

sunyi:
dia selalu menanyai segala yg ada di dekatnya,pada bara,pada angin..
tapi semua selalu terdiam angkuh,atau memang diciptakan untuk diam?

sendiri:
selalu saja memandang kelam pada rataan keramaian,atau memang tubuhnya harus terpisah dari jiwanya yang banyak berteman?

ah,ragu dan takut juga begitu..
seakan ada untuk dipertanyakan,atau memang tugasnya selalu begitu?menghinggapi hati2 yg rapuh,entah..

Older Posts »

Categories