Sudah agak bosan menulis hal-hal yang kurang penting a.k.a rada2 galau. Kali ini saya pengen sedikit menuangkan uneg-uneg saja. Mungkin saya awali tulisan kali ini dengan sebuah pertanyaan : bagaimana cara anda mengungkapkan kecintaan anda terhadap tanah air ini?
Jawaban dari pertanyaan ini pastilah bermacam-macam, tergantung pada individu masing-masing. Terkadang pikiran saya tiba-tiba terbebani oleh pertanyaan serupa. Cukupkah saya
mengungkapkan kecintaan saya dengan sekedar memakai atribut yang berkaitan dengan Indonesia? atau dengan ikut turun ke jalan mengkritisi kinerja pemerintah yang selama ini “dianggap” mengecewakan? atau hanya berkutat dengan buku dengan alasan saya akan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik kelak? saya pikir, tidak hanya dengan cara-cara tersebut kita bisa dikatakan “cinta” terhadap tanah air kita. Banyak sekali jalan lain yang terkadang tidak terjamah oleh pikiran kita (karena bentuknya yang cukup sederhana) yang ternyata mungkin justru dengan cara yang seperti itulah kita bisa dikategorikan cinta terhadap tanah air. Misal dengan membuang sampah pada tempatnya, menaati peraturan lalu lintas, tidak mencontek, senang membaca, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Mengapa saya mengangkat topik ini? sebenarnya sudah cukup lama saya agak terganggu dengan istilah “loyalitas” yang dikoar-koarkan oleh beberapa organisasi. Tentang bagaimana cara anggota organisasi tersebut mengungkapkan kecintaan dan loyalitasnya terhadap organisasinya. Yah, mungkin bisa saya analogikan dengan bagaimana cara kita mengungkapkan kecintaan kita terhadap tanah air kita. Apakah mereka yang tidak memakai baju batik (icon Indonesia) berarti tidak cinta terhadap Indonesia? apakah mereka yang tidak ikut mengkritisi kinerja pemerintah juga berarti tidak cinta tanah air? sepertinya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dikaji ulang.
Sedikit mengherankan, terkadang orang-orang terpelajarlah yang justru melihat kecintaan hanya dari simbol atau atribut semata (saya bilang “terkadang”). Menyedihkan ketika seorang aktivis memandang dan menganggap temannya tidak memiliki kecintaan dan loyalitas terhadap organisasinya hanya karena temannya tersebut tidak pernah ikut rapat atau turun ke jalan untuk berunjuk rasa. Padahal di sisi lain, mungkin saja temannya tersebut memberikan kontribusi dalam bentuk yang lain, misal membantu teman-teman organisasinya belajar. Bukankah itu juga berarti dia cinta terhadap organisasinya?
Jadi, bagaimana menurut anda?